Bandung, MPTV INDONESIA – Sebuah pemandangan tak biasa tersaji di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Bandung. Sebanyak 407 warga binaan dan petugas sukses menghadirkan drama kolosal “Ciung Wanara: Takdir yang Kembali”, yang mengantarkan Lapas Perempuan Bandung meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Pementasan spektakuler tersebut melibatkan 366 warga binaan dan 41 petugas yang berkolaborasi sejak proses kreatif hingga tampil di atas panggung. Bukan sekadar pertunjukan seni, drama kolosal ini menjadi bukti bahwa pembinaan di balik tembok lapas mampu melahirkan karya yang bernilai budaya sekaligus menginspirasi.
Seluruh proses produksi dikerjakan secara bersama-sama. Warga binaan terlibat mulai dari penyusunan naskah, latihan seni peran, tari, musik, tata rias, pembuatan kostum, hingga penataan panggung. Hasilnya, sebuah pertunjukan megah yang berhasil mencatatkan sejarah baru dalam pembinaan pemasyarakatan di Indonesia.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Gayatri Rachmi Rilowati, mengatakan bahwa keberhasilan ini merupakan wujud nyata pembinaan berbasis seni dan budaya yang selama ini dikembangkan di lingkungan lapas.
Menurutnya, tujuan pemasyarakatan bukan hanya menjalankan masa pidana, tetapi juga membentuk karakter, mengembangkan keterampilan, serta mempersiapkan warga binaan agar siap kembali menjadi bagian dari masyarakat.
Pemilihan legenda Sunda Ciung Wanara bukan tanpa alasan. Kisah yang sarat pesan tentang kejujuran, keberanian, keadilan, dan tanggung jawab itu dinilai sejalan dengan nilai-nilai pembinaan yang ingin ditanamkan kepada para warga binaan, sekaligus menjadi upaya melestarikan warisan budaya Jawa Barat.
Di balik pencapaian Rekor MURI, tersimpan proses panjang yang membangun disiplin, kekompakan, kreativitas, serta rasa percaya diri para peserta. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi warga binaan untuk memulai kehidupan baru setelah kembali ke tengah masyarakat.
Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang untuk belajar, berkarya, dan bertransformasi. Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung pun diharapkan menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya dalam menghadirkan program pembinaan yang inovatif, humanis, dan berdampak nyata.***(Shinta Dewi)










